Situs ini menampilkan kumpulan tulisan/artikel tentang Community Development Plantation and Mining juga tentang Lingkungan

Iklan

3 Tanggapan to “Situs ini menampilkan kumpulan tulisan/artikel tentang Community Development Plantation and Mining juga tentang Lingkungan”

  1. wilofi Says:

    Mari berbagi cerita dalam blog ini

  2. wilofi Says:

    POTRET MASYARAKAT DAYAK MAANYAN Kalteng
    Di KAMPUNG TETANGGA “MARGA RUKUN SANGATTA KUTAI TIMUR, Kaltim”
    Oleh : Tias Medan

    “Marga Rukun”, terletak di Sangatta Lama Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Berjarak sekitar 1500 km dari Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Disinilah bermukim sekitar 150 an KK yang bersuku Dayak Maanyan, kebanyakan berasal dari desa Tewah Pupuh, Ja’ar, Tamiang Layang, Dayu.

    Pola kehidupan dari sebagian mereka adalah tidak menetap, artinya mereka bisa datang dan kembali pulang ke daerah kampung asal mereka.

    Adanya peluang kerja di Kabupaten Kutai Timur, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Dayak Maanyan yang datang ke Sangatta, namun juga dirasakan oleh banyak suku lainnya yang bermigrasi ke Kabupaten Kutai Timur, seperti masyarakat suku Bugis, Tator, Batak, Manado, Banjar.

    Namun di tahun 2004, anak-anak Dayak Maanyan Kalimantan Tengah yang berada di Sangatta yang rata – rata berpendidikan hanya tamatan SLTA non skill, dikejutkan oleh adanya “SCORING SYSTEM yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kutai Timur. Scoring System ini dikeluarkan sehubungan dengan adanya gerakan dari masyarakat Dayak Kaltim yang menuntut kepada Pemerintah Daerah setempat dan PT. Kaltim Prima Coal untuk dapat secara adil memperkerjakan masyarakat Dayak Kutai Timur (Kutim) bekerja pada perusahaan PT. KPC dan Perusahaan lainnya yang ada di Kabupaten Kutai Timur. (PT. KPC merupakan perusahaan tambang batu bara terbesar di Kalimantan Timur dan di Indonesia). “Scoring System” tersebut menempatkan masyarakat Dayak Maanyan Kalimantan Tengah di Urutan Kelima untuk dapat direkrut oleh perusahaan-perusahaan yang ada di Kabupaten Kutai Timur. Urutan pertama ditempati oleh masyarakat Dayak Kutim yang lahir di Sangatta dan Bengalon dan yang tempat asal pendidikan SD, SLTP, SLTA di Sangatta dan Bengalon.

    Urutan kedua, ditempati oleh masyarakat Dayak Kutim yang lahir di Sangatta dan Bengalon dan yang pendidikan tempat asalnya di luar wilayah Sangatta dan
    Bengalon. Urutan Ketiga ditempati oleh masyarakat Dayak Kutim yang lahir di luar Sangatta dan Bengalon, Urutan keempat ditempati oleh masyarakat Dayak Kaltim lainnya, dan urutan kelima ditempati oleh masyarakat Dayak luar Kaltim lainnya.

    Melihat dari gambar tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan masyarakat Dayak Kalteng untuk direkrut bekerja pada Perusahaan yang ada di Kabupaten Kutai Timur adalah kecil sekali.

    System Score tsb, menyebabkan kekecawaan pada masyarakat Dayak Kalteng di Marga Rukun Sangatta. Namun sepakat atau tidak sepakat, keputusan yang telah dikeluarkan oleh Pemda setempat adalah keputusan final yang telah disepakati bersama antara Pemda Kab Kutim dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja Kab Kutim, Perusahaan dan Masyarakat Adat Dayak Kaltim.

    Adanya System Score tsb, tidak menyebabkan keputusasaan masyarakat Dayak Kalteng untuk tetap datang ke tanah Kutai Timur, harapan dalam mendapatkan kesempatan kerja lebih besar dari rasa putus asa yang ada.

    Seorang yang bernama “Iyep” bekerja sebagai pembantu montir pada salah satu bengkel mobil yang ada di kota Sangatta, dengan rambutnya yang di cat merah kecoklatan (mengikuti mode rambut anak muda jaman sekarang), kulit berwarna coklat kehitaman adalah seorang anak Dayak Maanyan Kalteng yang tetap menggantungkan cita-cita menggapai harapan di tanah Kaltim.

    ________________________________________
    Tias/File 2004

  3. Tias Says:

    Sekilas Desa Butong
    oleh : Tias Medan

    Desa Butong terletak di Kecamatan Teweh Tengah, kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, dengan penduduk sekitar 200 orang yang sebagian besar penduduknya adalah sebagai petani karet. Namun selain sebagi petani karet, masyarakatnya juga sebagai petani rotan dan ada juga yang bekerja pada Perkebunan Kelapa Sawit PT. Antang Ganda Utama.

    Ciri khas masyarakat Dayak kampung Butong masih terasa dengan adanya bahasa yang sehari – hari dipergunakan di dalam masyarakat desa Butong yaitu bahasa Dusun, Maanyan, Bakumpai.

    Terlihat beberapa rumah yang masih menjadi ciri khas rumah yang dibangun sekitar tahun 5o an, terbuat dari “kayu ulin” dengan tiang – tiang kokoh dan bentuk rumah panjang. Umumnya di desa Butong rumah – rumah penduduk di bangun dengan menggunakan tiang tinggi (ini di latar belakangi oleh seringnya desa Butong terkena banjir pada saat air sungai Barito meluap).

    Satu – satunya transportasi untuk bisa sampai di kampung Butong Lama adalah dengan menggunakan transportasi air seperti kelotok atau kapal motor. Terlihat sebagian besar masyarakatnya mempunyai kelotok atau kapal motor kecil sebagai sarana transportasi dalam memenuhi kegiatan sehari-hari seperti mencari ikan di sekitar danau Butong. Hasil dari menjala dan memukat ikan digunakan untuk di konsumsi sendiri dan sebagian penduduk juga mencari ikan untuk kemudian di jual pada masyarakat sekitar kampung Butong dan para pembeli ikan dari kota Muara Teweh. Jenis ikan yang ada adalah seperti ikan Benangin, Lais dan Patin.

    Untuk sampai ke danau Butong memerlukan waktu sekitar 30 menit dari desa Butong dengan menggunakan kelotok atau kapal motor kecil. Terlihat para nelayan sedang menjala ikan di danau Butong. Pemandangan yang sejuk dengan riak gelombang kecil di danau Butong akan selalu menyertai anda yang sedang berada di danau Butong. Danau Butong terdiri atas dua danau, danau yang pertama di sebut dengan “Danau Muara Butong” dan danau yang kedua adalah “Danau Butong Besar”. Pada Danau Muara Butong terlihat sekitar enam buah rumah lanting dan pada Danau Butong Besar terlihat sekitar dua puluh buah rumah lanting.

    Indahnya danau Butong dan pemandangan rumah tua desa Butong dapat menjadi alternative bagi wisatawan untuk melepaskan lelah.

    Sebagai sarana pendidikan untuk anak – anak Kampung Butong Lama, terdapat Sekolah Dasar yang terdiri atas enam kelas dan guru sekitar sepuluh orang. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP, anak- anak kampung Butong harus menyeberang sungai Barito untuk sampai di kampung Butong Baru selanjutnya menuju desa Maranen sekitar enam belas kilo meter dari kampung Butong Lama.

    Satu buah Pustu Kesehatan Desa melengkapi sarana kesehatan desa Butong.

    Kendala yang sangat dirasakan oleh masyarakat desa Butong adalah tidak tersedianya pasar desa. Untuk ke pasar, masyarakat desa Butong harus ke pasar desa Bintang Ninggi yang di adakan sekali dalam seminggu yaitu pada hari selasa pagi. Untuk sampai ke pasar desa Bintang Ninggi memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit dengan menggunakan kapal motor atau menggunakan taxi kapal motor dengan membayar sebesar empat ribu rupiah untuk sekali jalan, jadi untuk pulang pergi masyarakat membayar sebesar delapan ribu rupiah.

    Sistem penerangan yang digunakan di desa Butong Lama selain dengan masih menggunakan lampu tempel sebagian masyarakat menggunakan genzet.

    “Jamban” yang berada di tepian sungai Barito merupakan tempat masyarakat desa Butong dalam memenuhi keperluan mandi cuci kakus (MCK).

    Banyak harapan yang ada pada masyarakat desa Butong terutama harapan adanya kemajuan dalam pembangunan desa.

    Beberapa program di gagas oleh Organisasi Pemuda “KOMPAK” Butong, seperti program : pembuatan pasar desa, penerangan/listrik desa, pembuatan dermaga, pembuatan kolam ikan desa. Ketua Organisasi Kompak, Sutari, mengemukakan bahwa masih diperlukan dukungan dari semua pihak dalam merealisasikan program-program tersebut.

    file 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: